A Decade Reunion Trip to Vietnam! (Part 2)

Mari kita lanjutkan cerita tentang travelling ke Vietnam~

Phú Quốc let's goooo

Hari ketiga di Vietnam, saatnya kita meninggalkan Ho Chi Minh City. Melanjutkan cerita di postingan sebelumnya, abis kita main ke Là Việt Coffee Experience, kita berangkat menuju bandara untuk bersiap terbang ke Phú Quốc.

Perjalanan keberangkatan ke Phu Quoc dimulai dengan grusa-grusu! 🤣 Kita agak terkendala di bagasi pesawat.

Maskapai Vietjet Air itu terkenal sangat strict urusan bagasi maupun bawaan kabin. Bawaan kabin seperti tas ransel, semua bakal ditimbang dan bisa kena charge kalo ketahuan lebih dari 7 kg. Kita pun sampe bela-belain beli add-on bagasi supaya nggak overweight.

Namun masalahnya, bagaimana pun bagasi kabinku tetep lebih dari 7 kg. Entah berapa kali kita bongkar itu semua bagasi kita. Pindah sana, pindah sini, packing ulang, timbang, masih kelebihan, bongkar lagi. Sampai tergabung-gabung sudah barangku sama Adis wkwk 😂 

Ada kali ya hampir satu jam kita bongkar koper. Dilihatin orang-orang, bodo amat wkwk. Akhirnya kita berhasil check-in online dengan kedua koper kita masuk checked-baggage. Alhamdulillah kelar juga urusan perbagasian ini 😭🤲 

Masalah bagasi selesai, giliran masalah perut datang, alias lapar! Di Bandara nggak ada restoran halal, dan bekal kita ada di bagasi. Akhirnya opsi terakhir menu vegetarian jadi pilihan. Aduh, sayur lagii 🤣

Hidupku di sini sehat banget pokoknya

Ini adalah penerbangan domestik pertamaku di luar negeri. First impressionku: yaampun berisik banget warlok-warlok ini wkwkw.

Suasananya kayak nggak lagi di pesawat, tapi berasa di angkot saking ramenya wkwk. Safety procedure dari flight attendants yang harusnya khidmat dan fokus ini pun tetep berisik sampe aku nggak bisa dengerin pramugarinya ngomong.

Beruntung, karena lagi capek banget aku tetep bisa tidur di keramaian pasar malam ini 🙏

Energy saving mode dulu

Alhamdulillah jam 7an malam kita mendarat di Phu Quoc, dan lanjut naik grab ke hotel. FYI, Phu Quoc adalah pulau terbesar yang ada di bagian barat Vietnam. Beberapa tahun terakhir, pulau ini cukup naik daun sebagai tujuan liburan mancanegara karena pantai tropisnya dan sunsetnya yang cakep.

Dari bandara menuju Sunset Town, suasananya cukup sepi dan gelap. Begitu masuk Sunset Town, baru deh kehidupan mulai kelihatan.

Phu Quoc menurutku itu kota turis banget, terutama di bagian Sunset Town dan Grandworld. Bener-bener kota yang dibuat untuk turis, bangunannya didesain khusus untuk kota wisata, dan isinya turis semua. 

Kalo kalian pernah ke IKN, mungkin vibes-nya kurang lebih mirip kayak gitu. Penuh sama turis dan gedung-gedung modern, tapi kalo malem sepi mencekam.


But overall, kota ini cantik! Arsitektur bergaya eropa ini emang megah banget, apalagi kalo malam banyak lampu menghiasi jalan.

Malam hari itu kita istirahat di hotel aja sambil nonton fireworks dari balkon hotel. Alhamdulillah kamar kami diupgrade dari yang awalnya tanpa balkon, jadi ada balkon. Jadi kita bisa nonton langsung dari kamar tanpa harus ke rooftop 😆

Pemandangan dari balkon kamar

Besok paginya, qadarullah angin kencang dan hujan deras mengguyur Phu Quoc. Otomatis kami nggak bisa kemana-mana. Kami baru bisa keluar jam 2 siang, itu pun sebenernya angin masih kenceng banget dan gerimis tipis.

Yang seru kali ini adalah kita coba sewa motor! Dan Adis bersedia menyetir untuk bawa kita keliling-keliling Sunset Town.

Siap menjadi amor Vietnam


Jujur agak culture shock ya bawa motor di sini, karena di Vietnam mereka nyetir di jalur kanan. Aneh banget rasanya, soalnya muscle memory kita tuh otomatis nyetir di jalur kiri wkwk. Mana helm Vietnam mungil-mungil banget lagi, berasa nggak pake helm. Kalo di Indo mah ini nggak SNI wkwk.

But we did it! Alhamdulillah kita sampe tujuan dengan selamat. Kamu keren Adiis.

Kita keliling area Sunset Town sambil nyari makan dan foto-foto. Makin sore, orang-orang baru mulai berdatangan. Vibes-nya seru banget!




Sunset-nya bikin gedung-gedung jadi berkilau keemasan!

Menjelang maghrib, aku dan Adis berpisah karena Adis mau nonton show Symphony of The Sea, dan aku memutuskan nggak ikut dulu. Aku pun ikut nyore bareng orang-orang di San Marco Square. Suasana menjelang sunset rasanya makin magical! Langit yang keemasan, pengunjung yang makin rame, dan banyak performers yang ikut memeriahkan suasana.




Setelah Adis nonton show, kami berkeliling lagi di area pertokoan kemudian ditutup dengan nonton fireworks di San Marco Square. Heran deh, bagus bagus banget kembang apinya, dan udah gitu selalu ada tiap malam dan gratis loh! Apa nggak rugi ya? Wkwk.




Ada kejadian kocak setelah kita nonton kembang api. 

Jadi waktu itu udah pukul 21.40an. Pas kita mau pulang ke hotel, kebetulan ada bis city tour gratis yang baru aja tiba di meeting point. Tanpa pikir panjang kita kayak "ikutan kali ya? Lumayan gratis" 

Kita pun naik dan ikut keliling Sunset Town naik bis double-decker.


Beberapa menit kemudian, bis berhenti di sebuah apartemen mewah. Sebagian orang turun. Kita masih bercandaan "Dis kok kita tadi main naik-naik aja gaada nanya rute. Jangan-jangan ini bus shuttle ke apartemen? 😂" Adis menjawab, "Ah nggak laah. Tuh orang-orang juga masih banyak yang stay kok" 

Wkwk okelah. 

Lalu bis jalan lagi, kali ini memasuki sebuah kawasan resort mewah. Di lobby resort, bis kembali berhenti. Aku bahkan masih sempat bercandaan lagi "Orang kaya mana yaa yang nginep di sini? Bagus banget euy" 

Lah, nggak lama hampir semua penumpang turun! Aku mulai agak panik wkwk. "Dis ini beneran balik ke meeting point tadi kan? Kenapa semuanya pada turun 😭" Kata Adis, "harusnya sih iya. Tuh masih ada 1 keluarga yang stay, kita ada temennya" 

Okelah (walau ketar-ketir). 

Nggak lama, supirnya naik ke lantai 2 bis sambil ngomong dalam bahasa Vietnam. Intinya, semua disuruh turun karena tour bisnya udah selesai, udah lewat jam operasionalnya ceunah (sampe 22.00 aja). Kita shock kecil sambil ngakak karena bingung harus ngapain wkwkw. 

Penumpang-penumpang lain yang turun dari bis kemudian lanjut antri Buggy car di lobby resort. Kami pun ikut antri juga, sampai Adis membaca papannya "Buggy car to the Villas", kita pun mundur alon-alon wkwkwk 🤣 

Setelah kita nanya petugas resort, buggy yang datang memang khusus mengantar orang ke villa masing-masing (saking luasnya itu resort). Kalo mau balik ke Sunset Town, ya pesen grab sendiri. 

Alhasil dari New World Resort kita pesan grabcar yang harganya mehong itu wkwkwk. Di sepanjang perjalanan kita masih ngakak. Kocak banget kalo inget-inget kejadian random itu, duh ada ada ajaa wkwk 🤣🤣 

Mau naik double decker, malah double the price 😂

* * *

Puas main di Sunset Town, hari berikutnya kita geser ke area Grand World. Jarak kedua kota itu sekitar 47 km. Kita naik grab dulu ke airport, lalu naik Shuttle bus menuju Grand World.

Grand World pun hampir mirip dengan Sunset Town, yakni kota turis dengan arsitektur cantik khas Eropa. Namun menurut kami, Grand World lebih "ramah". Bangunannya cenderung lebih rendah (cuma 2-3 lantai aja) dan kerasa lebih hidup.


Sebelum kami check-in di hotel, kami mampir makan siang dulu di Resto Halal Venice. Kami pesan Bún bò xào (Stir fried beef rice noodles), chicken curry with roti, Fresh spring rolls, dan es kelapa.


Karena aku udah mulai bosan makan sayur jadi aku pilih menu timur tengah yang agak medok wkwk. But seriously, semuanya enaakk! Dan harganya pun cukup terjangkau di tengah area wisata kayak gini. Alhamdulillah perut happy, dompet happy wkwk.

Sembari kita makan, tiba-tiba hujan deras kembali mengguyur Phu Quoc, sehingga kita numpang berteduh dulu di resto sampe agak reda. Setelah kami check-in hotel pun hujan masih belum berhenti. Akhirnya kita habiskan waktu di hotel untuk istirahat.

Malamnya, kami main ke Teddy Bear Museum!

Source: vinpearl.com

Yess, museum ini berisi ratusan boneka teddy bear dari berbagai penjuru dunia. Gedungnya berbentuk donat, dan ada patung teddy bear besar yang ikonik di pintu masuknya. Museum ini mengangkat cerita fiksi petualangan Teddy Jones (Indiana Jones versi teddy bear) yang menjelajah ke berbagai pelosok dunia.


Ada zona budaya dunia, jadi ada diorama seperti Patung Liberty, Firaun Mesir, Cappadoccia, Petra, tapi versi teddy bear. Ada juga zona budaya Vietnam, jadi ada diorama teddy bear menggunakan pakaian tradisional Vietnam dan berlatar belakang kota-kota di Vietnam.

Overall, museum ini unik dan menghibur banget! Dan secara nggak langsung kita juga belajar sejarah dunia tapi dengan visual yang imut, haha.




Setelah dari Teddy Bear Museum, kita jalan-jalan di pertokoan pinggir kanal sungai dan menonton show gratis. Baik-baik amat sih pengelola Phu Quoc sering kasih show gratis 😆



Pulangnya, karena lapar kita mampir dulu ke resto halal yang masih buka. Aku happy banget karena di area Grand World ini rasanya lebih gampang nyari resto halal. Jalan dikit, nemu aja resto halal (walau harganya gatau berapaan wkwk).

Kita berhenti di salah satu resto dan nyobain Bánh xèo, semacam crispy pancake atau crepes ala Vietnam yang dimakan dengan rice paper dan isi-isian sayur dan herbs.




Mba-mba waitersnya baik banget sampe jelasin via google translate, nyariin video di Tiktok, sampe ngasih tutorial gimana cara makannya! 😁

Yah walaupun gulungan kita nggak sebagus yang mbaknya ajarin tadi, nggak papa deh toh kita makan sendiri wkwk. Seru banget 🙌

* * *

Hari keenam di Vietnam, waktunya kita kembali ke Ho Chi Minh City!

Pagi-pagi kita udah check-out hotel dan jalan kaki menuju terminal untuk naik shuttle bus ke airport Phu Quoc. Perjalanan ke airport sekitar 40-50an menit.

Ketika check-in pesawat, lagi-lagi ada aja darderdor-nya.

Awalnya kita check-in seperti biasa. Kami sudah beli tiket transit Phu Quoc–Ho Chi Minh–Jakarta dalam satu booking, tapi rencananya kami menginap dulu di HCMC semalam.

Sambil petugasnya memasang baggage tag di koper kami, dia bilang "this baggage will be sent directly to Jakarta okay" 

"Okay... 

Wait, what?!" 

Panik dong bagasi mau dianter langsung ke Jakarta, mana kita mau extend dulu sehari di Ho Chi Minh wkwk. 

"Yeah you don't need to pickup at Ho Chi Minh" dia menambahkan dengan santai.

Langsung panik lah kita, dan bilang kalo kita butuh bagasi itu di Ho Chi Minh. Petugasnya pun langsung agak berlari ngejar bagasi kita yang udah jalan di conveyor itu, dan mengganti baggage tag tujuan Ho Chi Minh wkwk. Untung blio nggak marah. Maafkan ya mas 🙏

Penerbangan Phu Quoc–HCMC kali ini cukup unik. Setelah sebelumnya penerbangan domestikku diwarnai ramenya warlok Vietnam, nah di penerbangan kali ini hampir semua penumpangnya adalah wisatawan mancanegara.

Hampir semua orang yang kutemui di waiting room berbahasa asing dan memegang paspor berbagai warna, padahal ini adalah penerbangan domestik. Warga Vietnam baru pada mau berangkat ke Phu Quoc kali ya, karena waktu itu baru aja weekend wkwk.

Setelah tiba di bandara Ho Chi Minh, perut mulai keroncongan karena dari pagi belum diisi apa-apa. Mau nyari makanan halal pun nggak ada di sekitar bandara. Alhasil, bagasi yang baru banget muncul di conveyor langsung kita bongkar buat ambil bekal, dan kita masak waktu itu juga 🤣

Kebetulan di ruangan baggage claim tersedia dispenser air panas. Adis masak nasi instan, aku masak popmie. Ditengokin orang, bodo amat wkwk. Urusan perut lebih penting daripada mendengar omongan orang-orang wkwkw 😂

Fresh from the conveyor

Perut sudah diisi, kita lanjut ke Lotte Mart untuk belanja oleh-oleh~

* * *

Di hari terakhir ini, kita janjian ketemuan dengan Trang. Trang adalah salah satu sahabat dan roommate kita pas di Davao City 10 tahun lalu.

Yap, sebenarnya salah satu alasan kita pilih trip ke Vietnam yakni mau sekaligus reuni bareng sahabat-sahabat kita di vietnam. Tapi sayangnya, waktu itu kita ngehubungin beberapa teman kita, Tuoi udah pindah ke Taiwan, dan Michelle sekarang di Canada.

Untungnya, Tuoi ngasih tau kalo teman kita Trang masih ada di Ho Chi Minh dan kita dikasih kontaknya. Langsung deh kita ajak meet up!

Kita bertemu di Thiso Sala Mall, di malam terakhir kita di Vietnam. Awalnya, kita malah diundang koleganya seorang Chinese untuk ikut makan malam seafood. Baik banget kan temen kerjanya mau mengundang orang-orang asing ini untuk makan gratis?! Wkwk. Aduh ngebayangin makan chinese seafood yang gurih dan medok rasanya ngiler banget, apalagi setelah seminggu bosan makan sayur terus. Tapi Adis bilang walaupun seafood juga belum tentu halal, apalagi temannya chinese.

Baiklah, kita ngemall saja~

Alhamdulillah, akhirnya ketemu lagi sama Trang setelah 10 tahun! 😍 


She's grown into a beautiful young lady. Dulu dia udah cakep dan kalem, sekarang dia makin cakep lagii. Heran deh, padahal udah 10 tahun yang lalu. Beda negara, beda kesibukan, kami juga hampir nggak pernah catch up karena dia gak aktif FB dan IG. Tapi begitu ketemu, dia masih sama hangatnya seperti kita pertama kali kenal. Baiknya masih sama, dan kita bener-bener langsung akrab!




Videocall sama Tuoi di Taiwan 


Kita banyak sharing life updates satu dekade belakangan ini. Ia sekarang bekerja sebagai interpreter Vietnamese-Chinese-English di sebuah perusahaan. Keren bangett, pantesan bahasa inggrisnya fasih banget! Dia juga berbagi update dari teman-teman yang lain, karena ia masih sesekali kontakan via WeChat. Andy sudah menikah dan jadi bos, Jerry melanjutkan studi magisternya di UK, Anh juga sudah menikah dan punya anak yang lucu.

Sukses deh kata gue, wkwk.



Trang bener-bener excited ceritain semua hal. Pas kami jalan-jalan ke supermarket, dia tunjukin semua rekomendasinya beserta sejarah-sejarahnya. Dia yang tanya-tanya ke SPG-nya, lalu diterjemahkan ke bahasa inggris untuk jelasin ke kita wkwk.

Waktu beli makan malam pun, dia jelasin semua makanan yang ada di sana. Bahkan bela-belain beli makanan yang "aman" supaya kita bisa ikut makan (dia tahu kita nggak bisa makan babi dan alkohol), sampe kita jadi sungkan karena dia sangat respek 🥹

Makan malam kita


Pemberhentian terakhir, kita mampir ke Phê La sambil ngopi dan ngobrol santai.

Setelah beberapa hari di Vietnam dan mengamati dengan mata amatirku, aku merasa Vietnam begitu passionate dengan apa yang mereka miliki. Sebagai negara produsen kopi terbesar kedua sedunia, ia nggak pernah main-main terhadap industri kopinya. Hampir setiap 5 langkah, kamu bakal ketemu coffeeshop, entah mulai dari kopi pinggir jalan, coffeshop murah, hingga coffee-chain besar yang mewah. Semua warganya pun sepertinya mencintai kopi. Segitu banyak coffeshop, semua punya pelanggannya masing-masing, dan semuanya terasa hidup.

Nggak cuma kopi, cokelat pun mereka seriusin produknya. Nggak susah untuk menemukan toko cokelat lokal yang rasanya unik-unik. Banyak juga varian cokelat single origin karena mereka bener-bener peduli dengan taste notes dan daerah asal cokelat tersebut. Dan menariknya, mereka selalu kasih tester produknya. Aku suka banget main ke toko cokelat di sana, karena bisa nyobain semua cokelatnya walaupun belinya nggak banyak wkwk.


Menjelang mall tutup, akhirnya kita berpamitan dan berpisah.

Aku terharu banget sih. Aku masih nggak nyangka bisa ketemu lagi sama temen Vietnam dan dia masih sangat humble. Setelah ini, entah kapan kita bakal bertemu lagi. Kita wacanakan saja satu dekade lagi kita bisa traveling bareng ke Sa Pa, atau mungkin lima tahun lagi kita main ke Taiwan nyamperin Tuoi, hihi. Aminin aja dulu, kan? 😌🤲

Makasih Trang atas semua kebaikan dan energi-energi positif yang sudah diberikan! Sehat-sehat dan sukses ya! Semoga kalo suatu saat kamu main ke Indonesia, kita bisa menjamu kamu sebaik kamu menjamu kita di Vietnam.

🥰

Malam yang haru itu, akhirnya ditutup dengan naik Grabbike kembali ke Hotel, ditemani rintik-rintik hujan di jalan.

Sebuah keputusan yang tepat sih untuk naik Grab bike, karena aku bener-bener bisa nikmatin malam terakhir Ho Chi Minh dari dekat walau sambil diterpa gerimis. Udah gitu bapak drivernya lumayan ramah, kami sempat ngobrol singkat selama di jalan. Ah, sungguh malam yang indah untuk menutup hari terakhir kita di Vietnam 🥹

Malam syahdu yang akan selalu kuingat

Akhirnya, hari terakhir tiba juga. Pagi hari jam 5.30 pagi kita udah berangkat ke bandara Ho Chi Minh untuk kembali pulang ke Indonesia. Aaaak rasanya masih belum rela pulang wkwk.

Setelah beres imigrasi dan customs, kami mampir lagi ke coffeeshop untuk ngopi terakhir di Vietnam. Yuyur agak syok pas lihat harga kopi di ruang tunggu internasional semua jadi pake USD 😭🤣 yah mo begimana lagi wkwk.

Dompet rupiahku menangis melihat harga dalam USD 🥲



Kami pun menghabiskan waktu di ruang tunggu sambil ngopi dan makan bekal cup noodles wkwk.

Penerbangan terakhir kita di trip kali ini :')

Setibanya di Jakarta, kami makan sebentar di AW. Lalu Adis mengantar aku sampe shelter skytrain bandara. Kami berpelukan sebentar, lalu berpisah di sini karena Adis bakal lanjut menuju kosnya di Cikarang, sedangkan aku melanjutkan perjalanan ke Jakarta Pusat untuk ketemu Hana.

Perpisahanku sama Adis gak pernah se-sosweet orang-orang kalo pisah di bandara wkwk. Tapi percayalah dis, it was an honor to have you in this trip! Dan aku sedih banget pas kita akhirnya pisah 😢

Thank you Dis for making it happen. It was an unforgettable trip, for sure ☺️

* * *

Alhamdulillah, selesai juga liburan kita ke Vietnam. Liburan yang lahir dari rencana kecil, yang iseng dilontarkan sepuluh tahun lalu, ternyata berhasil kita wujudkan walaupun harus menunggu satu dekade kemudian.

Durasi liburan ini bisa dibilang cukup lama. Delapan hari dong. Bahkan di tengah liburan kemarin Adis baru nyadar, "Eh dipikir-pikir lama juga ya kita liburan? Padahal kalo ikut tour gitu paling 3-4 hari doang wkwk" 🤣

Tapi menurutku liburan kali ini cukup worth it sih, karena aku bener-bener menikmati tiap harinya di sini. Pilihan slow vacation ini bikin liburan nggak overwhelming. Kalo ada kegiatan hayuk, cafe-hopping hayuk, tiduran santai di hotel pun hayuk.

Siapa bilang traveling itu selalu indah? Nggak juga. Tapi di situ lah seninya. Seni menikmati perjalanan di tengah segala keterbatasan. 

Ya keterbatasan waktu, keterbatasan biaya, keterbatasan bahasa, keterbatasan tenaga. Bayangin kalo kita punya waktu libur terlalu lama pun rasanya jadi nggak ada tantangan, kan? 

Aku dan Adis ke sana tanpa bisa bahasa Vietnam sama sekali. Dan orang Vietnam mayoritas nggak bisa bahasa Inggris. Kalo dipikir-pikir, gimana cara komunikasinya ya? Tapi ternyata, nggak perlu dipikir dan bisa kok! 

Beruntung, traveling sekarang super mudah. Ada Google Lens untuk translate tulisan asing, ada Google Translate yang bisa artikan omongan kita, dan ada chatGPT yang bisa bantuin kita apapun itu. Lagipula, semua orang akan memaklumi karena kita adalah turis, dan bahasa Vietnam bukan bahasa kita. Jadi nggak perlu IQ 180 dan IELTS 9.0 buat bisa ke mana-mana. Pokoknya kalo bingung, tinggal tanya aja 😁 

* * *

Shout out to the biggest highlight of this trip: Adis! Tentu saja trip ini nggak akan terlaksana tanpa sosok satu ini.


Adis adalah sahabatku dari SMP. Dia banyak hadir saat naik dan turun kehidupanku selama 15 tahun belakangan. Kami bukan teman yang rajin kontakan sih, bahkan ulang tahunnya kemarin pun kayaknya aku nggak ngucapin wkwk (maap dis 🙏), tapi pertemuan dengannya selalu hangat. 

Aku bersyukur sekali punya Adis sebagai partner travellingku kali ini. Di tengah 'portofolio' traveling dan stempel paspornya yang udah banyak, dia masih mau menerima aku sebagai travel partnernya dan se-excited itu untuk ngetrip bareng. It was an honor for me!

Kami punya preferensi traveling yang hampir mirip. Jadi nggak terlalu susah untuk kami membuat itinerary. No doubt, she's a great planner! Dia jago banget riset tentang tempat yang akan kita kunjungi, riset hotel dan transportasi, bahkan makanan halal pun dia riset satu persatu. Budgeting dan pencatatan keuangan juga selalu dia buat dengan matang. 

Aku terkagum-kagum waktu meeting perencanaan trip, dia bikin itinerary detail banget! "Kita nanti ke sini, harga tiketnya segini. Tapi lebih murah kalo lewat online. Besok jam segini kita naik bus ini, harganya cuma segini daripada naik grab" 

Kewreen, makasih banyak Adiis 😭 

Tetap selfie walau lagi nyasar di mall

Dia pernah cerita, dia suka insecure milih hotel karena biasanya kalo dia yang pilih pasti ada aja yang nggak beres. Tapi menurutku dia harus buang jauh-jauh sugesti itu karena di trip ini, hotel yang dia pesan beneran baguss dan strategis banget loh! Beneran se-happy itu aku sama hotel-hotel kemarin 🤩 You did it, terima kasih yaa dis!

Adis adalah seorang RnD di sebuah perusahaan yang cukup ternama. Dia cinta banget sama supermarket! Waktu kita mampir ke 7eleven, dia bisa anteng banget ngelihatin produk satu persatu, bacain komposisi, cek kandungan gizi, nyari logo halal, dan analisa produknya.

Aku juga suka ke swalayan (tapi buat jajan, lol). Kita bisa menghabiskan waktu lama cuma buat mampir ke minimarket wkwk. Tiap keluar dari 7eleven, ada aja produk unik yang dia beli 😆 entah itu dia cobain sendiri atau dia bawa pulang untuk jadi sampel di lab-nya nanti. Seruu sih, aku jadi ikut nyobain produk-produk unik haha.

Skill itu lah yang akhirnya jadi penyelamat ketika kita di sana. Dia gercep banget mempelajari suatu produk "Jangan yang ini Fet, belum ada logo halalnya." "Kita jangan ambil sushi deh, banyak titik kritisnya. Ini aja sayur, harusnya aman ya" "Bentar fet aku tanya Gemini dulu ya"

Aku kadang baru ikut beli kalo dia udah kasih lampu hijau "Fet, cobain ini deh. Ini enaak, udah halal lagi". Wkwkwk makasih Adis rekomendasinya.

Survival instinct-nya nggak perlu diragukan lagi. Ia pandai sekali memutar otak untuk memastikan semua hal berjalan lancar. Selain itu, dia juga agamis banget. Tiap pagi selalu bangunin dan ngingatin sholat (astaghfirullah dasar aku). Dan tiap hari selalu ia sempatkan untuk sholat Dhuha dan ngaji. Semoga pelan-pelan aku bisa meniru hal-hal baik dari kamu yaa Dis!

Pertemuan singkat setelah bertahun-tahun nggak ketemu ini tentu saja kami manfaatkan untuk bertukar life updates, ataupun ngobrol santai. Tiap malam, kita tidur selalu lewat jam 1 pagi karena keasikan ngobrol, padahal di awal bilangnya "aku mau tidur cepet ah, capek" wkwkwk. But I regret nothing. It was all fun spending time with her!

Kami mungkin nggak selalu ceria. Ada kalanya kita me-recharge energi kita dengan menjadi unresponsive. Mungkin nggak terhitung berapa kali aku bikin Adis kesel wkwk, dan mungkin aku juga gak selalu bisa kasih energiku 100% ke dia. Tapi untungnya kita nggak pernah sampe marah dan berdebat hebat. Dan aku bener-bener bersyukur akan itu. 

Aku rasa komunikasi kami cukup jelas. Dia bukan tipikal orang yang suka ngode-ngode nggak jelas. Apa yang kita suka dan nggak suka, kita sampaikan baik-baik ke satu sama lain. Lalu karena pertemanan kami udah cukup lama, kami juga sedikit banyak tahu karakteristik satu sama lain, jadi nggak susah untuk menyesuaikan. 

Dan lagi, di awal perencanaan trip ini kita udah saling sampaikan, mau tipe travelling yang kayak gimana, interest kita itu apa aja, kondisi keuangan kita gimana, jadi kita bisa satu visi tanpa ada yang nggak enak hati. 

Aku nggak banyak ngonten selama perjalanan kemarin. Aku bener-bener menikmati semua trip ini sampai lupa kalo ada netijen yag perlu dikasih asupan tontonan (hehe bercanda). Maksudnya, saking menikmatinya sampai aku nggak merasa butuh menerima validasi dari orang lain.

Bahkan aku sama Adis waktu itu sempet kepikiran bikin konten traveling seperti orang-orang di tiktok, tapi endingnya kita nggak buat sama sekali 😂 ah memang kita bukan anak konten wkwk.

Travelling bareng temen itu menurutku kayak "ujian" pertemanan. 

Selama perjalanan jauh gini, pertemanan kita bakal diuji. Gimana cara kita komunikasi, gimana kita berdua memecahkan masalah, gimana cara menahan ego, semua akan menentukan pertemanan kita kedepannya. 

Dalam kondisi capek, kita bakal dilihatkan sisi asli diri kita masing-masing, yang mungkin nggak selalu indah. Jangankan masalah besar, perbedaan sepele pun bisa bikin kita berselisih kalo memang nggak bisa ditanggapi dengan bijak. Kalo nggak lulus ujian, pertemanan bisa aja renggang dan memanas. Tapi kalo kamu berhasil, dijamin pertemanan kalian bakal makin solid dan tak gentar hadapi apapun.

Ini adalah trip ketigaku bareng Adis, dan alhamdulillah selalu berkesan. If I have a chance to travelling abroad again, without hestitation I will choose her again! 😆

* * *

Traveling kali ini bener-bener membuka mataku tentang banyak hal. Aku melihat banyaakk sekali perbedaan. Dan nggak ada satu pun yang salah, we're just different. Dulu aku masih suka membandingkan orang "ih kenapa sih kok dia pake kerudung kayak gitu ya, padahal kan gak boleh sama aja dosa" "ih lihat deh, masa ada orang kayak gitu sih?" dll. 

Banyak hal yang bikin kita berbeda. Mulai dari budaya, gaya hidup, iklim, dan sebagainya. Sekarang aku bisa jauh lebih memahami perbedaan. Karena kalo dipikir-pikir, harusnya orang lain yang justru heran sama kita berdua karena kita tuh berkerudung dan tertutup di tengah panasnya Vietnam. 

Ya sekarang juga sesekali masih ngomongin orang sih, tapi cuma sebatas lucu-lucuan dan obrolan 5 detik aja wkwk. 

Dan dari trip ini, aku tuh makin percaya: nggak perlu peduli orang lain akan ngomong apa, karena semua orang tuh hanya sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Stop changing yourself to match everyone around you. 

Di Changi, semua orang berbeda. Mereka datang dari seluruh penjuru dunia dengan berbagai latar belakang. Percayalah, kamu nggak akan punya waktu untuk ngurusin semua perbedaan itu. 

*

I believe, we're never alone when travelling. Pergi ke tempat dan negara asing kadang terdengar menakutkan, tapi percayalah kamu nggak akan pernah sendirian. 

Di bandara Balikpapan menuju Singapura kemarin, aku berangkat seorang diri. Sampai tiba-tiba ada seorang ibu muda yang datengin aku untuk minta tolong jagain barangnya selagi beliau ke toilet. 

Dari situ, kita jadi duduk barengan dan ngobrol banyak hal. Dia banyak sharing pengalamannya di HCMC begitu tahu aku mau ke sana. Kita bareng mulai dari imigrasi Balikpapan, bahkan sampe di Singapura pun beliau masih menyapa dengan hangat. Usut punya usut, ternyata beliau adalah Dosen FEB Unmul yang mau ke Vietnam untuk conference, haha. Sehat-sehat, Bu Herning. Semoga lebih banyak tempat lagi yang bisa dikunjungi ya Bu 😊 

Di Vietnam pun kita ketemu locals yang superr baik. Walaupun nggak bisa berbahasa inggris, gesture mereka selalu ramah. Memang keramahan orang ASEAN nggak perlu diragukan lagi ya, haha.

Terima kasih Vietnam! Terima kasih semua orang baik yang kutemui selama perjalanan. Kenangan ini bakal selalu hangat tersimpan di core memory-ku 🤍


Untuk kalian yang sudah membaca sampai sini, terima kasih banyak! Kalian baru saja menyaksikan antusiasme seorang bocah batita (bayi dibawah tiga puluh tahun) yang kembali melihat dunia 🥹

Sampai jumpa di trip berikutnya! 👋

Komentar