A Decade Reunion Trip to Vietnam! (Part 1)
Halo!
Aku baru aja traveling ke negeri naga biru, dan saatnya aku berbagi keseruan delapan hari melanglang buana ke negara tersebut.
Yap. Alhamdulillah akhir Juli kemarin aku berhasil menceklis wishlist-ku travelling ke Vietnam bersama sahabatku.
Sebenernya wishlist ke Vietnam ini udah diwacanakan sejak 10 tahun lalu. Waktu itu, aku dan Almira lagi di Davao City dan kami sekamar dengan 4 vietnamese yang jadi sahabat kami selama di sana.
Mereka baik baik bangeeett, dan kami juga banyak diceritakan tentang Vietnam. Dari situ lah kita mulai tertarik dan muncul wacana "next kita harus main ke Vietnam untuk reuni sama mereka!"
Sembilan tahun berlalu, tepatnya di tahun 2025, aku dan Adis mulai ngide lagi untuk traveling bareng. Tapi karena beberapa kondisi, kita jadwalkan di tahun 2026 sekalian bertepatan dengan satu dekade kita ngetrip ke Davao City.
![]() |
| Jadi orang tolong jangan terlalu ayokan 🙏 |
Beberapa waktu sebelum keberangkatan, kita sempat meeting beberapa kali untuk bikin itinerary. Ada beberapa kota yang masuk wishlist, seperti Ho Chi Minh City, Hanoi, Phu Quoc, Sa Pa, Da Lat, Da Nang, dll. Akhirnya pilihannya jatuh ke HCMC dan Phu Quoc dulu. Yah semoga next ada kesempatan buat ngunjungin kota-kota lainnya nanti.
Kota transit pun sempat jadi diskusi panjang karena ada aja idenya mau transit di KLIA, Changi, sampai Brunei wkwk. Tetep, pilihan akhirnya transit di bandara yang normal-normal aja alias Changi, karena itu bandara yang paling familiar buat kita berdua.
Waktu bikin itinerary aku juga sampaikan ke Adis, kalo liburan ini aku mau lebih banyak menghabiskan waktu dengan tenang tanpa grusa-grusu. Nggak harus itinerary yang super padat dan melelahkan, sekedar bengong dan eksplor nyari tempat nongki aja aku hepi.
Untungnya, Adis pun setuju.
Tanggal 19 Juli pagi, aku berangkat dari Bontang menuju Balikpapan, kemudian lanjut transit ke Changi. Adis berangkat dari Jakarta dan kita ketemu di Changi untuk melanjutkan perjalanan bareng ke Ho Chi Minh City.
Alhamdulillah, akhirnya aku kembali lagi ke Changi Airport setelah sembilan tahun lamanya. Bandara ini masih menjadi bandara favoritku sejak pertama kali datang ke sini. Selain arsitekturnya yang cakep, fasilitasnya yang besstt banget, airport ini juga menyimpan banyaak sekali kenangan buatku.
Aku tiba duluan jam 8 malam, lalu keliling-keliling sendiri di Terminal 1 sambil menunggu Adis yang mendarat jam 1 pagi. Seriusan deh, menunggu di Changi itu nggak pernah membosankan! Dia udah kayak shopping mall terbesar saking gede dan meriahnya. Bahkan sekedar bengong ngelihatin orang-orang dari seluruh dunia aja udah menarik banget buatku.
Akhirnya, jam 1 tengah malam Adis mendarat dan kita ketemu tepat di depan pintu keluar customs. Yaay! It was soo nice to meet her again. Sebagai sahabat low-maintenance, ini adalah pertemuan kita setelah 3 tahun lamanya.
Sejak Adis meresmikan diri jadi warga Bandung di tahun 2020, kami hampir nggak pernah ketemu lagi. Bahkan sebelum dia pindah pun kami udah jarang ketemu karena beda kota kuliah. Kami cuma pernah ketemu sebentar waktu ia ke Bontang tahun 2023 menghadiri nikahan sahabatnya, Shofi.
Alhamdulillah masih dikasih kesempatan untuk ketemu lagi 🥰
Pas Adis dateng, hampir semua toko udah tutup wkwk. Bahkan Jewel yang serame itu pun ikut gelap dan surut wkwkwkw. Ya iya sih karena udah jam 1 pagi, tapi kan Changi termasuk bandara tersibuk keempat di dunia loh, dan sepanjang malam itu terus ada penumpang yang mendarat maupun berangkat. Tapii yaudah lah, karena nggak banyak toko yang buka, kita cuma keliling sebentar lalu lanjut makan di Encik Tan yang buka 24 jam.
Tebak apa rencana kita waktu di Changi? Nobar Justin Bieber di Half-time Show Final FIFA World Cup 2026! 😆 kebetulan waktu itu bertepatan sama final Piala Dunia di jam 3 pagi. Aku udah sempet mikir juga, ah sekali-sekali pengin nobar pildun mumpung aku pas lagi melek. Dan cocok lah Adis juga mau nonton wkwk.
Abis makan jam 2 pagi, kita lanjut cari spot nobar. Alhamdulillah di Changi disediakan beberapa spot nobar. Kita pun nobar sambil mengantuk-ngantuk. Pengalaman unik bangett akhirnya aku nobar piala dunia, dan bareng orang-orang dari penjuru dunia wkwk.
Malam itu kita beneran nggak tidur sampe pagi! Kalo dipikir-pikir gila juga ya, mau ngetrip bukannya ngumpulin tenaga malah begadang wkwk.
Setelah nonton, kita sholat subuh dan lanjut flight ke Ho Chi Minh di pagi harinya. Kami mendarat pukul 9.00, disambut teriknya matahari Vietnam.
Kalo bisa mendeskripsikan Ho Chi Minh City dari pertemuan singkat ini, menurutku kota ini tuh cantik.
Kota ini banyak berdiri gedung-gedung pencakar langit, billboard-billboard besar nan modern, tapi di situ juga masih banyak gedung-gedung historis bergaya eropa yang penuh sejarah.
Jalanan superrr padat dan macet oleh banyaknya pengemudi motor dan mobil yang lalu lalang, tapi di satu sisi kota ini juga masih banyak taman dan ruang terbuka hijau untuk para pejalan kaki yang ingin menikmati suasana kota.
Aku cukup nyaman jalan kaki di kota ini. Cukup padat dan panas sih, tapi selalu seru. Bahkan, aku nggak ngerasa takut jalan kaki di sini. Nggak pernah sekalipun overthinking bakal dijambret, dibegal, atau apapun. Ya walaupun begitu, kita harus tetep jaga barang masing-masing ya ges.
Cuma emang pengendara di sini barbar banget. Klakson di mana-mana. Motor dan mobil nggak sabaran di jalan. Mau nyebrang jalan di zebra cross pun setengah mati karena mereka bener-bener nggak ngerem! Emang harus yakin aja sambil baca bismillah, haha.
Oh, ada lagi satu hal yang cukup ngeselin dari negara ini. WC umumnya jarang banget punya bidet! Heran, apa enaknya sih cebok cuma pake tisu? 😩
Lain kali kalo kalian berencana traveling ke Vietnam, wajib bawa bidet portable ya ges.
Selama di sana, kita pakai grab untuk berpergian. Kalo jaraknya masih dekat, biasanya kita jalan kaki aja.
Pemberhentian pertama begitu sampai di Ho Chi Minh adalah cari makan Phở ! Kita naik grab bike ke warung Pho Rahim di pusat kota.
Pho adalah makanan khas Vietnam berupa mie, daging, dan sayur-sayuran dalam kuah kaldu. Pho itu aromanya nikmat banget, tapi begitu diseruput ternyata kuah kaldunya cukup light dan justru wangi herbs ketika dimakan.
![]() |
| Phở |
Lapar lapar, lalu disuguhi Pho daging itu jujyuur jadi nikmat banget haha. Walaupun kita jadi kegerahan, karena cuacanya yang panas terik ditambah nyeruput kuah pho yang ngebul mendidih + kepedesan wkwk.
Kalo aku bisa mendeskripsikan, makanan Vietnam itu sehat-sehat banget! Semua makanan dikasih sayur segar a.k.a lalapan segepok. Kadang dikasih daun ketumbar, daun kemangi, atau basil. Adis cinta banget sama daun ketumbar wkwk. Aku bisa sih makan, tapi bukan favoritku. Karena di Indo pun aku nggak makan daun kemangi kalo beli lalapan.
Nggak mustahil kok untuk nyari makanan halal di sini. Dan termasuk enak jugaa. Cuma jujur kadang ngiler sama makanan lokal di warung-warung pinggir jalan, aroma bakaran yang medok dan kaldu entah daging apa itu jujur bikin laper haha.
Abis kenyang makan Pho, kita sholat di masjid sebelah sambil istirahat. Di situ kepala udah pusing karena nggak tidur semalaman dan telat makan, akhirnya kita memutuskan pulang dulu ke hotel.
Malamnya kita nyobain makan Banh Mi a.k.a roti isi daging khas Vietnam. Personally aku sukaa sih sama Banh Mi, karena aku emang suka roti/sandwich. Apalagi ini pake baguette dan isiannya cukup melimpah. Enaak!
![]() |
| Bánh mì & Fried Spring Rolls |
Setelah makan, kita jalan-jalan sebentar melewati Ben Thanh Market. Awalnya kita berencana mau nongkrong di Cafe Apartments, tapi kita urungkan karena udah jam 21.30an (takut gabisa tidur lagi semalaman wkwk) dan memutuskan mampir ke 7eleven aja.
7eleven bagi kita udah jadi tempat penuh kenangan. Di Davao City satu dekade lalu, kita hobi banget ke sevel tiap hari! Haus dikit, melipir sevel. Kepanasan, mampir sevel. Beli kebutuhan harian, sevel. Gabut dikit, sevel.
This trip was somehow brings back our memories in Davao City!
Besok paginya, kita main ke Saigon Post Office, mengintip Notre Dame Cathedral of Saigon yang sedang direnovasi, keliling di Saigon Book Street, dan belanja oleh-oleh.
Aku cukup kagum loh, ada walking street di Ho Chi Minh yang didedikasikan isinya jualan buku semua! Dan di beberapa tokonya menyediakan stamp gratis, hihi asik banget!
Setelah berperang melawan panas matahari jam 12 siang, akhirnya kita melipir ke coffee shop terdekat: Highland Coffee. Highland Coffee merupakan salah satu coffee chains terbesar di Vietnam, yang ada di setiap sudut kota.
Kita nyobain menu khas Vietnam: Phin sữa đá, yaitu es kopi dengan condensed milk.
Kalo kalian tahu minuman Vietnam Drip di Indonesia, nah itu mengikuti konsep Phin Sua Da di Vietnam. Dia nggak pake espresso, melainkan ekstrak kopi yang dibuat dari phin filter. Lalu dicampur condensed milk dan es batu.
Rasanya strong, pekat, dan enak banget! Semua kopi vietnam yang aku coba selalu nendang kopinya dan pekat, berbeda dengan kopi di Indonesia yang cenderung lebih encer. Auto melek sih ini wkwkw.
Setelah energi cukup terisi, kita keliling lagi sambil menunggu waktu naik Hop-on Hop-off Bus di sore hari.
Sore jam 5, kita kumpul di Nguyen Hue Walking Street untuk ikutan Hop-on Hop-off Bus. Kalo kalian lagi travelling, wajib cobain bus ini sih untuk bisa dapetin banyak insight wisata dalam waktu singkat. Dan saranku, kalian bisa ambil di waktu sunset. Selain nggak panas, kalian bakal dapetin dua suasana: sore ketika terang dan malam ketika lampu-lampu menghiasi jalan (bonus dapet sunset juga!).
Selesai keliling, kita mampir sebentar ke Statue of Ho Chi Minh, lihat Cafe Apartments, lalu kembali ke hotel.
![]() |
| Langit Ho Chi Minh selalu cantik 🥹 |
Hari ketiga di Ho Chi Minh, saatnya kita check-out karena kita akan geser ke Phu Quoc. Sebelum check-out, kita beberes dulu dan cuci baju mumpung disediakan mesin cuci dan pengering gratis.
Habis check-out hotel, karena masih ada waktu sebelum boarding pesawat, kita cari tempat ngopi di sekitaran kota. Iseng lihat-lihat di maps, kita nemu Vietnam Coffee Experience by Là Việt, yang kebetulan jaraknya nggak begitu jauh dari kita. Langsung kita gaass.
Jadi tempat itu bukan coffeeshop pada umumnya. Dia semacam cafe untuk ngerasain pengalaman ngopi sambil dijelasin oleh baristanya. Sebenernya ini bukan hal baru juga sih di Indonesia, tapi baru kali ini aku dan Adis nyobain.

Jadi dalam satu sesi, kita bakal dikasih 1 kopi filter sesuai beans pilihan kita, dilanjutkan dengan 1 set kopi yang terdiri dari 4 cangkir varian kopi susu berbeda.
Masnya lumayan bisa berbahasa inggris, tapi logat vietnamnya kental banget sehingga kita harus fokus penuh mendengarkan penjelasan dari mas baristanya.
Pas disuguhin empat varian kopi itu, aku cukup terkagum-kagum. Kok bisa ya kopi vietnam enak-enak banget? Walaupun mayoritas kopi susunya manis, tapi rasa kopinya tetep strong.
Kami banyak diskusi sepanjang sesi, dan penjelasan dari baristanya cukup membuka insight baru tentang dunia perkopian Vietnam. Ini jadi salah satu pengalaman yang seru banget sih!
Setelah puas ngopi, kita melanjutkan perjalanan ke Bandara untuk bersiap terbang ke Phu Quoc. Tungguin cerita di Phu Quoc setelah ini ya!


























Komentar
Posting Komentar
Apa pendapat kamu? Yuk sharing! :)