Insyaallah

Ngerasa nggak sih, kata “Insyaallah” sekarang ini maknanya udah mulai bergeser dan sering disalahartikan sama orang-orang.

Misalnya ada yang tanya,
“Besok kita ke sini yuk?”

Dijawabnya:
“Insyaallah yaa, soalnya besok aku udah ada jadwal lain”
“Insyaallah yaa, aku gak janji”

Lah, aneh.

Kata “insyaallah” malah dipakai untuk janji yang kemungkinan besar akan dilanggar, komitmen yang nggak ditaati, dan harapan yang tidak pasti.  Sehingga seolah-olah arti insyaallah adalah: saya tidak janji. 

Jujur aku cukup muak dan kecewa, karena kalimat itu selalu jadi tameng orang-orang untuk berlindung dari pengingkaran janji.

Alih-alih tenang menerima jawaban insyaallah itu, aku justru skeptis banget “wah fix ga bakal ikut nih orang”.

Kenapa sih orang-orang harus kasih kalimat penenang semu kalo memang dia nggak bisa pegang komitmennya? Gapapa kok cukup bilang “Maaf ya, aku belum bisa ikut. Besok udah ada jadwal lain”, atau sesederhana "maaf skip dulu" kalo emang gak berniat ikut.

Jangan sampai kalian merusak makna indah dari kalimat “Insyaallah”.

Aku bukan ahli agama, tapi coba kita bahas sama-sama makna Insyaallah yang aku tahu selama ini.

Mengucapkan kata insyaallah sesungguhnya bersumber dari perintah Al-Qur’an. Secara literal berarti “jika Allah menghendaki”.

Justru kalimat ini mengajarkan pentingnya rendah hati. Nggak semua yang kita inginkan akan terwujud. Kita meyakini bahwa kita nggak bisa hanya mengandalkan diri sendiri karena ada kekuatan-Nya yang lebih besar dari diri ini.

Semuanya bersifat tidak pasti, dan justru karena itulah kita dituntut berikhtiar.

Tapi oleh orang-orang sekarang justru disalah artikan, karena mereka sendiri yang membuat ketidakpastian itu. itu mah artinya bukan “Jika Allah menghendaki” tapi lebih ke “Jika mereka sendiri menghendaki”

Kalimat yang mungkin masih bisa aku terima adalah “Insyaallah ya kalo nggak hujan”, atau “Insyaallah ikut kalo nggak ada halangan”, dan sebagainya, karena memang hal-hal tersebut di luar kendali kita, dan kita berserah diri untuk itu.

Tolong, insyaallah bukan ucapan basa-basi atau tameng berlindung dari ketidakteguhan janji. Kalian nggak tahu seberapa besar ekspektasi orang lain ketika dijawab Insyaallah karena mereka percaya “Insyaallah” adalah kalimat sakral.

Aku juga nggak luput dari kesalahan ini. Makanya tulisan ini juga menjadi refleksi untuk diriku sendiri, untuk lebih mindful dalam bertutur kata dan nggak main-main dengan janji.

Nggak perlu kasih janji semu kalo yakin nggak bisa ditepati. Jangan kayak pemerin...

#oops 🤫

Comments