Pesta Karier dan Persimpangan Jalan
Beberapa hari lalu aku baru aja melaksanakan Job Fair 2025. Terlibat langsung dan menyaksikan Job Fair ini mixed feeling banget buatku. Aku melihat banyak sekali fenomena yang terjadi di kegiatan ini.
Perasaan bahagia sudah jelas yang utama. Melihat banyaknya peluang karir dan kesempatan yang terbuka lebar ini tentu membuka harapan buat banyak orang. Orang-orang datang ke sini dengan semangat. Aku juga ikut semangat.
Aku juga banyak ketemu teman-teman. Rasanya hangatt sekali bisa ngobrol ringan dan bertukar kabar sama kawan yang udah lama nggak ketemu.
Dan karena kantorku buka stand di sana, aku banyak menghabiskan waktu bareng temen-temen kantor dan itu seru banget! Mulai dari pasang-pasang dan dekor, lalu piket jaga booth, jajan di UMKM, sampai beres-beres semuanya menyenangkan. Kerja rasanya kek main doang 🤣 (padahal banyak deadline menumpuk woy fet wkwk).
Aku juga banyak sharing dan dapet insight baru dari para pelamar yang memang latar belakangnya berbeda-beda. Kadang mereka dateng ke booth itu nggak langsung melamar, tapi cuma sekedar ngobrol dan pengin tahu aja. Nah dari situ justru keluar banyak cerita dan ilmu baru.
Ada yang ceritanya inspiratif, kadang nemu yang songong juga, ada yang humoris, ada yang bikin insecure, pokoknya banyak.
Tapi di balik serunya acara ini, ada juga perasaan lain yang muncul.
Ngelihat para pencaker datang bawa berkas segaban kadang bikin aku pilu juga. Aku kebayang, betapa susahnya ya orang-orang ini cari kerja. Betapa besar harapan yang mereka taruh melalui map-map yang ia titipkan ke perusahaan.
Perjuangan mereka itu nggak main-main. Fotokopi berkas yang kelihatannya receh tapi sebenarnya nggak murah. Datang pagi-pagi. Antri sana-sini. Penuh keringat. Tangannya dingin penuh cemas.
Makanya setiap aku menerima berkas dari para pencari kerja, aku coba selipkan semangat dan doa baik ke mereka. "Terima kasih yaa kak sudah tertarik bergabung di sini. Sukses selalu ya kak, semangaat"
Mungkin walau nanti jalan suksesnya bukan di sini, tapi aku doakan semoga sukses di mana pun mereka berada.
Aku juga melihat orang-orang yang kukira hidupnya udah nikmat, tapi masih kesana kemari cari kerjaan. Yang dari dulu aku pengin jadi seperti dia, eh tiba-tiba di Job Fair ini aku ketemu dia lagi melamar di tempatku bekerja. Lah.
Urip iki sawang sinawang ya?
Ngelihatin CV mereka juga bikin aku minder. Buset, orang-orang itu keren-keren banget sih?!
Kalo melihat freshgraduate datang ke Job Fair itu udah biasa. Tapi aku juga banyak melihat orang-orang yang jauuuh lebih dewasa dari aku, yang juga keliling melamar kerja ditemani anak dan istrinya. Usianya nggak lagi muda, dan itu juga yang bikin aku sungkan karena ada beberapa loker kami yang bersyarat usia.
Aku nggak tahu apa yang terjadi, dan aku nggak tau latar belakang mereka sama sekali, tapi apapun itu, semoga Job Fair ini jadi jalan pembuka rezeki mereka.
Sebagai salah satu perusahaan yang ikut di Job Fair ini, aku juga jadi kepikiran apakah semua perusahaan di sini benar-benar buka lowongan kerja atau ini sekedar formalitas mengisi undangan dari Disnaker?
Karena kalo dari instansi, kita seakan disuruh buka lowongan sebanyak-banyaknya. Tapi perusahaan kan juga butuh jumlah karyawan yang proporsional, gak bisa sembarangan tambah-tambah karyawan seenak jidat, yang bikin biaya operasional membludak.
Dan terakhir, aku mixed feeling melihat diriku sendiri yang seolah lagi ada di persimpangan jalan. Apakah jalanku sudah benar untuk bertahan, atau aku sedang menyia-nyiakan kesempatan yang terbuka lebar ini?
Semoga aku, kamu, atau siapa pun itu bisa segera menemukan jalannya sendiri.
People come and go. Jadi ingat akhir 2023 masukin lamaran, 2024 keterima bekerja di perusahaan yang dilamar. dan 2025 resign dari perusahaan yang pernah dilamar, didoakan dan disemogakan
ReplyDeleteHidup memang nggak bisa ditebak. Semoga ketemu jalan yang lebih baik ya kedepannya!
Delete