Canyoneering sambil Healing

Halo!


Akhirnya aku kembali dengan cerita jalan-jalan 🥳

Trip kali ini, aku dan temanku mencoba aktivitas Canyoneering di Kota Bangun, Kutai Kartanegara.

Buat temen-temen yang belum tahu, canyoneering (atau canyoning) adalah aktivitas jelajah sungai dan air terjun, yang termasuk dalam aktivitas ekstrem. Biasanya, canyoneering nggak cuma nyusurin sungai, tapi juga turun dari tebing atau air terjun dengan teknik rappelling menggunakan tali dan pengaman.

Jujur, canyoneering juga merupakan kosakata baru buatku. Seumur-umur belum pernah kepikiran mau turun dari tebing air terjun 😭

Yang ngide trip ini tentu saja bisa ditebak ya. Yup, mba Gina si manusia super ayokan wkwk. Dimulai dengan ajakan iseng di Bulan Februari lalu, dia ngetes dengan kirim flyer-flyer Open Trip Canyoneering. Aku pun iseng aja mengiyakan ajakannya, walaupun entah kapan terrealisasi wkwk.

Beberapa bulan cuma ayok-ayok doang, akhirnya akhir April kemarin kami mulai menentukan tanggal fix di Bulan Mei. Ada beberapa lokasi trip yang dia tawarkan, dan kita sepakat ambil Open Trip di Kota Bangun yang diadain sama Fun Trip, supaya kita bisa sambil liburan tipis-tipis di Samarinda.

Kita sempet ngajakin beberapa orang, tapi sepertinya belum berjodoh karena memang trip kali ini cukup memakan waktu, tenaga, dan biaya. Namun untungnya Coach Restu bersedia ikut jalan-jalan di Samarinda. Yay!

Dan ternyata seminggu sebelum aku berangkat, Adis juga abis nyoba Canyoneering di tempatnya Jawa Barat. Dia keren bangett! Aku belajar banyak dari cerita-cerita dan tipsnya, haha.

Pinky girl and pinky boy

Hari Sabtu jam 3 dini hari, kami bersiap-siap untuk berangkat ke Samarinda. Qadarullah hujan, jadi kita berangkat pake jas hujan. Bayangin: dini hari, gelap gulita, kehujanan, dan dingin jadi pelengkap cerita keberangkatan kita. Nggak usah muluk-muluk harus nyampe dalam 3 jam, kita bisa nyampe dengan selamat aja udah alhamdulillah banget wkwkw. Dan gara-gara kehujanan, mba Gina sempat agak masuk angin, tapi untungnya masih bisa beraktivitas normal. 

Setelah 3 jam 40an menit, akhirnya kami tiba di titik kumpul Samarinda. Aku dan mba Gina lanjut registrasi trip, sedangkan coach jalan-jalan eksplor Samarinda sendirian sembari menunggu kita kembali. Dari titik kumpul, kami lanjut naik mobil ke air terjun di Kotabangun, Kutai Kartanegara. Jaraknya sekitar 2 jam dari Samarinda. Tentu saja kesempatan itu aku pakai buat tidur di mobil wkwk.

Sekitar pukul 9 kami sampai di Air Terjun Suka Alam. Jarak dari parkiran kendaraan ke air terjun cukup dekat, jadi nggak perlu trekking lagi. Air terjunnya kalo dilihat sih nggak tinggi, kurang dari 12 meter kalo kata instrukturnya. Dan untungnya (atau gak untung, ya?) air terjun waktu dalam keadaan surut karena musim kemarau. Di satu sisi penginnya air mengalir deras biar adrenalin terpacu. Tapi di sisi lain juga ketakutan gak karuan wkwk. 

Setelah tiba kami dibriefing sejenak dan melakukan stretching ringan. Menjelang giliran kita, kita dibantu untuk pakai pengaman mulai dari body harness, helm, pelindung lutut dan juga siku. Kemudian kita diajak naik lewat hutan menuju pinggir air terjun.

Kalo aku ngelihatin orang tuh kayaknya gampang, dan secara teori aku juga udah ngerti. Tapi begitu dijalanin sendiri ternyata nggak semudah itu wkwk.

Kalo aku bisa deskripsikan, rappelling turun dari tebing di awal itu bener-bener menguji mental. Safety sebenernya udah terpasang aman dan crew pun siap kasih bantuan dan instruksi, tinggal kita sendiri yang melawan rasa takut di dalam diri ini wkwk.

Ada banget paniknya karena tali tiba-tiba nggak bisa turun. Kaki kepleset dan terhempas ke bebatuan tebing. Tangan rasanya gabisa lepas dari tali karena takut jatuh. Tingginya tuh nggak sampe 12 meter, tapi rasanya kok gak sampe-sampe ke dasar ya wkwk.

Untung aja mas-mas dan semua crew di situ helpful banget. Ngelihat kita panik gara-gara kepleset, mereka kalem banget nenangin dari atas “gapapa, it’s okeeii. Ayok pelan-pelan dicoba lagi. Naaahh gitu mantap”. Wkakakak berasa ngajarin bocil-bocil PAUD.

Setelah menguji mental, kita juga diuji fisik ketika kita sudah di posisi melayang. Jujurr posisi backflip itu menguras tenaga banget. Kedua kaki diangkat ke atas, dan kepala direbahkan ke bawah. 

Waktu itu mba Gina yang turun pertama, jadi otomatis dia udah mencoba backflip duluan. Begitu aku turun menyusul, aku melihat mukanya udah cukup pucat. Dia hampir nggak mau disuruh backflip lagi, tapi akhirnya mau sambil bilang “yaudah tapi sekali aja ya, bentar aja”

Setelah aku mencoba sendiri aku langsung relate sih kenapa dia nggak mau lagi WKWK. Kaki pegal, pinggang kencang, kepala auto pusing karena terbalik 180°, dan keseimbangan badan diuji. Udah gitu masih harus fokus mendengarkan instruksi dari tim sambil nyariin dimana fotografernya 😂

Aku juga cukup ketar-ketir tapi alhamdulillah bisa terlewati. Leganya bukan main bisa berhasil melawan semua rasa takut ini haha. Mba Gina yang darah rendah dan abis masuk angin ini begitu turun langsung rebahan dan muntah-muntah wkwk. Sad bangett, tapi kamu kereen sudah berhasil melewati ini semua!




We did it!

Selesai canyoneering di air terjun, kami kembali ke Samarinda naik mobil. Sepanjang perjalanan pun mba Gina gak berhenti muntah-muntah. Ditambah hujan deras di jalan dan langit yang makin gelap, aku udah berfirasat mungkin kita disuruh istirahat aja di penginapan.

Eh ternyata sampai Samarinda nggak hujan wkwkw. Kita istirahat sebentar dan lanjut jalan-jalan lagi hihi.

Sekitar pukul 21.30an kita mampir ke kompleks Citra Niaga untuk makan malam dan ngopi. Itu adalah kali pertamaku main ke sana dan menurutku tempat itu unik banget! Segala macam tempat makan dan coffeeshop, mulai dari yang sederhana banget, sampe yang fancy juga ada. Di satu sudut terdengar suara musik DJ, di sudut yang lain ada suara lagu dangdut dan koplo. Pengunjungnya ramee banget, tapi ternyata cukup juga karena orang-orang bisa duduk di manapun termasuk lesehan di pelataran kompleks.

Pokoknya unik banget tempatnya. Tapi bukan tipikal tempat kesukaanku sih karena terlalu banyak manusia apalagi waktu itu malam minggu wkwk.


Besok paginya, kami lanjut main ke Bukit Steling. Niatnya kemarin sih mau lihat sunrise di puncak, tapi ternyata kami kesiangan wkwkw. Untungnya cuaca pagi itu adem berawan, jadi mendaki agak siang nggak terasa melelahkan. Bisa dibilang, oke juga lah tempatnya. Pemandangannya bagus dengan view kota Samarinda dan Sungai Mahakam. Banyak juga kursi dan meja yang disediakan untuk menikmati pemandangan. 

Hari makin siang, kita turun dan sarapan di Sambal Mejo lalu check-out penginapan. Lalu perjalanan selesai? Oh tentu saja belum wkwk. Kita lanjut ngopi dulu di House of Dondang dan lanjut makan siang di Mie Ayam Jakarta. Baru deh kita pulang ke Bontang. Sebenarnya masih ada beberapa tempat lagi yang mau kita datangi, tapi kita mengejar waktu supaya bisa sampai Bontang sebelum malam.

Kompilasi jajan enak selama di Samarinda 😋

Di perjalanan pulang, kami mencoba lewat Marangkayu. Jaraknya lebih jauh dari jalan poros BTG-SMD, tapi rutenya seru banget! Jalanannya relatif lebih sempit tapi lebih lurus dan landai. Nggak banyak tanjakan, turunan, ataupun tikungan. Jalanan juga nggak banyak truk. Kita jadi lebih tenang karena nggak harus bersaing menyalip truk-truk besar berjejer.

Pemandangannya juga asik banget. Marangkayu letaknya di pesisir, jadi suasananya khas banget dengan pohon kelapa, rumah-rumah panggung, dan aroma laut yang sesekali tercium. Di pinggir jalan banyak juga pedagang udang, kepiting, dan hasil laut lainnya. Kami juga sempat mampir di salah satu pantai sambil istirahat. Lumayan lah, bisa healing sebentar sambil menikmati suara ombak dan semilir angin yang tenang.

Overall, jalur Marangkayu itu recommended buat kalian yang memang mau jalan-jalan santai menikmati perjalanan. Daripada badan tegang karena motor mungil ini harus melawan truk-truk besar, nggak ada salahnya cobain jalur Marangkayu.

Akhirnya kita sampai di Bontang tepat ketika Maghrib berkumandang. Aaak sedihnya trip ini berakhir 😢



Terima kasih aku haturkan kepada sobat-sobat amorku mba Gina dan coach Restu yang sudah berkenan liburan bersama. Mereka berdua nih dibilang akur juga nggak yah. Tiap ketemu ada aja ngamuknya, entah gara-gara yang satu jail atau yang satu labil wkwk. Tapi mau serandom apapun mereka, mereka lah yang selalu bikin hariku penuh. Thank you for making this happen 🥹

Semua kendala, badan pegal-pegal, kegiatan gak sesuai rundown, kehujanan, semuanya sama sekali nggak mengurangi keseruan trip ini. Justru, semua itu menambah warna dan cerita baru di perjalanan ini. Karena di balik sebuah peristiwa, pasti selalu ada cerita dan hikmah yang bisa kita petik.

Tentu semua orang mengharap kelancaran dan kemudahan di setiap perjalanannya. Tapi kalaupun trip nggak berjalan sesuai rencana, itu juga jadi bagian dari perjalanan yang penuh cerita. 

Thank you!

Ikut open trip kayak gini juga ternyata menyenangkan juga. Kami jadi punya kenalan dan temen-temen baru yang lucu-lucu! Di mobil, kami bareng dengan kak Icha, kak Hali, dan mas Valen yang otomatis jadi satu kloter dengan kami. Mereka juga banyak bantu support semangat, bantuin ketika mba Gina butuh obat-obatan, dan lanjut karaokean bareng di mobil. Terima kasiih, sehat-sehat ya kalian!

* * *

Walaupun trip ini judulnya adalah canyoneering, tapi justru yang bikin aku excited bukan cuma canyoneering-nya. Yup, the best part of this trip wasn’t the Waterfall, it's them!


Kemana pun perginya asal bareng teman-teman tuh selalu seru. Bahkan nggak usah muluk-muluk, rebahan sambil netplikan bareng mereka aja aku udah hepii! Beberapa pekan sebelum berangkat kami excited banget menyusun itinerary di tengah waktu yang singkat ini. Rasanya semua tempat mau dikunjungi, semua makanan mau dicoba. Semoga nanti kita punya waktu lebih panjang untuk bisa eksplor lebih banyak lagi ya!

Tanpa mereka mungkin liburan kali ini nggak bakal seseru ini, atau malah nggak akan mungkin terjadi. Jujur masih heran sampe sekarang, kok bisa ya kita ngide gelantungan di tebing dan jalan-jalan di Samarinda, dan kita pada mau?! wkwkw.

Jujur aku hepi banget tiap ditunjukin dan direkomendasiin tempat-tempat favorit mereka. Selain karena rekomendasi mereka itu sudah pasti enak, tapi aku juga berasa diajak masuk ke potongan hidup mereka.

Tempat favorit tentu saja berisi memori-memori baik. Dan dengan membagikannya, aku seperti diberi akses ke suatu hal yang personal, seolah ikut disisipkan ke timeline kehidupan mereka untuk mengukir memori baru. And it's an honor for me. 

Semoga di kesempatan berikutnya aku bisa gantian sharing hal-hal favoritku (yang aku juga belum tau apa hahaha).

Makasih mba Gina, makasih coach, makasih semuanya yang sudah meramaikan trip ini! Seru banget bisa mengeksplor hal baru bareng-bareng. Next, kita kemana lagi yaa? Naik Pegunungan Himalaya, mungkin? 😆

Comments