Ibu Anak Tiga


Aku nggak menyangka kalo ternyata ngerawat kucing "doang" bisa sebegitu sentimental buatku. 

Beberapa minggu ini, kucing kesayanganku sakit (semua kucing di rumah aku sayang sih). Awalnya batuk-batuk, lama-kelamaan mulai sesak. Aku yang saat ini menjadi single parent anak 3 ini tentu saja ketar-ketir mengurus mereka sendirian. 

Sebenernya aku tuh hepi aja tinggal sendirian. Tapi baru kerasa sedihnya ketika aku harus ngurusin kucingku yang sakit sendirian. 

Aku panik bukan main sampai nggak tahu lagi mau gimana. Untung aja aku kemudian ditemani alya untuk cari klinik hewan yang buka malam itu. Alhamdulillah makasih ya al 😭 

Beberapa hari kala itu, aku nggak bisa tidur nyenyak. Tiap 1-2 jam kebangun lalu ngecekin kucing apakah dia baik-baik saja. Tidur sebentar, mimpi buruk yang aneh-aneh. 

Lalu jam 3 pagi, aku keluar kamar dan ngecekin lagi. Panik banget tiba-tiba ibel nggak ada dimana-mana. Aku panggil pun sama sekali nggak nyahut atau nyamperin. Padahal, biasanya kalo dengar suara atau langkah kakiku pasti datang mendekat. 

Aku langsung teringat salah satu buku yang pernah aku baca. Kadang kucing kalo sudah menemukan "waktunya" ia bakal pergi mencari tempat sendiri, jauh dari pemiliknya, karena nggak ingin pemiliknya sedih dan merasa gagal dalam merawatnya. 

Makin panik dong aku. 

Setengah mati aku nyariin di segala sudut, aku manggilin udah sambil nangis-nangis 😭 tempat satu-satunya yang belum aku cek adalah di genteng, tapi karena masih jam 3 pagi aku urungkan niatku untuk ngecek ke atas sana. 

Subuh jam 5 pagi, aku masih memanggil-manggil dan ibel belum kunjung muncul. Aku menangis sejadinya, pikiranku kacau. Akhirnya, kuputuskan untuk izin dulu bekerja demi mengurus ibel. Karena kalo aku kerja pun, sepanjang kerja aku nggak akan fokus karena kepikiran ibel di rumah. 

Alhamdulillah, sekitar jam setengah 8 dia nongol entah dari mana 😭 alhamdulillah saat itu aku masih diberi kesempatan buat ketemu ibel lagi. 

Aku jadi paham gimana perasaan ibu yang ngerawat anaknya yang sakit. 

Bener-bener mau melakukan apapun demi anaknya bisa sehat lagi.
Bener-bener mau bayar berapa pun yang penting anaknya bisa ceria lagi.
Bahkan ngurusin anaknya sampe lupa sama kesehatan sendiri. 

* * *



Merawat ibel sakit itu jadi kenangan yang nggak akan terlupakan bagiku.

Beberapa minggu dia sakit itu, aku sudah di mode "ayok bel kamu pasti bisa sembuh" alias tak gentar hadapi apapun. 

Aku sudah nggak neko-neko lagi untuk bolak-balik antar dia berobat. Yang biasanya aku "mendang-mending" mau belikan mereka makanan mahal, sekarang aku coba belikan favorit mereka. Kalo ibel gak mau minum obat, gapapa kita coba cara lain. Kalo masih gamau, kita coba cara lain lagi. 

Jujur semua itu di luar zona nyamanku, tapi aku coba sebisaku dengan penuh harap. Karena di kepalaku cuma satu: yang penting ibel bisa sembuh. 

Pagi hari, seperti biasanya, aku mandi dan bersiap untuk kerja. Sekitar jam 6 pagi utak-atik di dapur menyiapkan obat dan juga makanan untuk kucing-kucing. 

Begitu aku masuk kamar ibel, jantungku langsung berdebar kencang melihat ibel terbaring dengan postur yang tak biasanya. Pelan-pelan kudekati, betapa kagetnya aku melihat ia sudah tidak bernafas. Seketika tanganku dingin, dan aku menangis sejadinya, sambil masih memegang semangkuk makanan yang akan kuberikan buat ibel. 

Pikiranku campur aduk. Aku bahkan nggak tahu harus gimana. Kulihat tubuhnya yang mulai dingin dan kaku itu, rasanya air mataku nggak bisa berhenti menetes. 

Tentu saja banyak penolakan di dalam kepala ini. Kayak: mungkin kalo aku bawa dia berobat lebih cepat, dia bisa hidup. Mungkin aku bisa berusaha lebih keras, nyawanya akan terselamatkan. 

Bahkan, sampai sekarang aku masih sesekali menatap kamarnya, berharap dia akan hidup dan menyambut lagi. 

Tapi apapun itu yang sudah terjadi, nggak akan bisa aku ulang walaupun aku menangis ribuan kali. 


Aku mau bilang banyak terima kasih ke keluargaku dan teman-temanku yang sudah support dan menenangkanku. Kata mereka, "Di titik ini, percayalah kamu sudah berusaha melakukan yang terbaik dan ibel pasti bersyukur bisa dirawat olehmu" 

Kalimat mereka cukup mengobati penyesalanku, walau di dalam kepalaku, aku masih merasa sangat gagal merawatnya. 

Apalagi posisiku sekarang sedang sendirian di rumah. Semua hal yang terjadi di rumah saat ini adalah tanggung jawabku. I felt useless. 



Keluargaku pernah punya berbagai hewan peliharaan sebelumnya, mulai dari ikan, kelinci, bebek, hamster, kura-kura, dan mungkin banyak lagi. Tapi baru ini aku bisa merasakan ikatan batin dan kedekatan layaknya keluarga sendiri. 

Berbeda dengan hewan lain, kucing punya kedekatan emosional yang unik dengan manusia. Ia mendengar tanpa menghakimi. Ia selalu hadir di kala kita butuh teman. Ia mencintai tanpa kata-kata. 

Mungkin kita berbeda bahasa, tapi aku tahu kita saling menyayangi. 

Bahkan katanya, kucing mampu merasakan kalo ownernya sedang tidak baik-baik saja. Ia akan hadir dan menyerap energi negatif itu. 


Dulu pernah salah satu rekan kerjaku laki-laki gak semangat dan lemas karena kucingnya mati. Teman-temanku tertawa, tapi aku sama sekali nggak merasa ada yang lucu di situ. 

Aku sangat paham, dan aku tahu itu hal yang berat untuknya. Entah apapun gender kita, kalo kehilangan seseorang yang disayang pasti sedih kan? 

Bahkan dulu adikku si paling cuek, tertutup, dan bodo amat itu dia menangis paling banyak waktu kucingku dulu mati/hilang (aku lupa). Mungkin bagi orang lain, mereka cuma kucing. Tapi bagiku, mereka keluargaku.

Ketiga kucingku punya kepribadian yang berbeda-beda, dan mungkin kalo dites MBTI, hasilnya pasti berbeda juga. 


Ibel adalah kucing yang tenang, pandai, dan nggak pernah cari masalah. Badannya yang gemoy itu menjadikan dia primadona di rumah, maupun orang yang bertamu di rumah. Dia welcome dengan semua orang, semua kucing, selama masih dalam boundaries-nya. 

Jangan sekali-kali pegang perutnya, atau mencoba menggendongnya. Dia bisa mendadak brutal. Tapi di luar itu, dia selalu baik dan penurut. 

Love language-nya jelas bukan physical touch yang hobi dipeluk-peluk. Dia anak yang Quality Time banget. Gak perlu gestur lebay mencintai dia, cukup hadir aja. 

Cara dia menyayangi manusia pun sama. Nggak selalu clingy ke orang, tapi cukup hadir di ruangan yang sama. Tenang, tapi aku merasakan kehadiran dia sebagai bentuk sayang yang tidak terkira. 

Lain lagi dengan kucing-kucingku yang lain, Milo dan Mili. 

Milo anaknya ekstrovert banget, hobi main keluar, cari temen, cari musuh. Anak kinestetik yang banyak bergerak kesana kemari, selalu penasaran dengan apapun yang aku lakukan. Love languagenya, mungkin giving/receiving gift. Dia seneng banget dikasih hadiah-hadiah kecil kayak wet food, snack, potongan ayam, dll. Sebagai gantinya dia pun juga sering kasih aku hadiah kayak kadal, tikus, burung. Dia buru dan taroh di depan rumah 🥲 

Kalo mili introvert parah. Dia suka tempat yang tenang, sepi, bersama orang-orang yang dia sayang. Dia clingy banget alias hobi banget glendotan di orang yang sayang. Love languagenya tentu saja physical touch. 


Tulisan ini rasanya makin tidak jelas arah dan jalan ceritanya. Tapi memang, aku cuma mau meluapkan apapun yang ada di kepala ini. 

Mungkin tulisan ini bisa menggambarkan betapa kacaunya pikiranku saat ini. Iya, merasakan perasaan sedih sendirian itu benar-benar menyesakkan. 

Mata dan kepalaku sakit karena air mata ini tak kunjung reda. Dadaku rasanya sesak, terlalu banyak emosi yang tersimpan dalam diri ini. Seakan menunggu pertolongan, entah siapa. Rasanya aku nggak bisa menghadapi ini sendirian. 

Ingin kupeluk ayah ibuku. Ingin kurasakan tenang dan aman di rumah. Saat ini aku gelisah, entah menunggu apa di rumah. 

Semoga rasa sedih ini segera berakhir. Karena mungkin ibel di alam sana juga nggak ingin aku sedih berlarut. 



Beberapa hari lalu aku baru aja sempat menanam mawar di pot ibel. Alhamdulillah kemarin dikasih bibit mawar sama kakak ipar, sekarang potnya udah cantik, bahkan beberapa hari bunganya udah mekar 😍 

Semoga tanaman ini bisa jadi saksi kalo Ibel akan selalu dikenang dan bakal terus memberi manfaat 🌻 

* * *






Dear Ibel, 

Terima kasih sudah mampir di hidupku. Sebuah kehormatan buatku dan keluargaku bisa merawat kamu selama 9 tahun lamanya. I will cherish every moment we did together. 

Maaf kalo aku belum bisa jadi babumu yang baik. 

Asal kamu tahu, bel, kamu adalah kucing tergemoy yang pernah hadir dalam hidupku. Sang pelipur laraku. 

Terima kasih ya anak manis. Semoga tenang di sana.

Comments