Hidup Ini Aneh

Waktuku sisa dua bulan. Dan aku sedang berada dalam fase yang membingungkan.

Cobaan terbesarku berasal dari faktor luar, yakni orang lain yang silih berganti bertanya “kok belum lulus lulus sih?” “bukannya kamu penelitian udah dari lama ya?” “Halah penelitianmu mah gampang aja tuh”, dan juga orang tua, yang nggak mungkin lagi aku mintakan uang untuk bayar ukt semester depan.

Kalo faktor dari dalam, jujur, nuraniku sendiri nggak masalah dengan masa studi yang panjang. Aku masih bisa mengeksplor diriku lebih banyak di dunia perkuliahan. Aku juga bisa memantapkan lagi arah tujuan hidupku mau ke mana. Tapi sekali lagi, aku nggak mungkin meminta uang lagi untuk bayar ukt. Aku sudah cukup jadi beban di keluarga. and society.

Sekarang, aku tengah berusaha menikmati ritme kehidupan yang sejatinya bergerak naik dan turun. Ya, menikmati. Berusaha melihat semuanya dari sisi positifnya. Belajar berusaha, tidak mengeluh, tidak menyerah. Kalau hari ini gagal, besok dicoba lagi. Nggak boleh menyalahkan apapun atas kejadian saat itu.

Otakku sudah terlalu penuh kalau harus memikirkan hal-hal yang tidak penting. Aku sudah tidak peduli lagi dengan orang-orang yang memang nggak ada hubungannya denganku. Aku berusaha nggak ingin tahu keadaan orang lain, kecuali mereka yang benar-benar aku pedulikan.

Karena ketika aku tau kehidupan mereka, tanpa sadar aku jadi membandingkan dengan kehidupanku sendiri. Kemudian menyalahkan diri sendiri, memaki-maki, dan membuatku lupa kalau kita semua memang dilahirkan dengan jalan hidup yang berbeda.


Zona amanku adalah mereka. Kami teman seperjuangan dan kami tahu betul masalah yang dialami satu sama lain. Hanya dengan mereka lah aku berani bercerita dan berkeluh kesah. Bersama mereka kadang memberiku semangat dan mereka seolah menggandengku sambil berkata, “Tenang Fet, kamu nggak sendiri.”

Sekarang ini, yang aku butuhkan cuma pengertian dan dukungan. Aku butuh orang-orang yang mengerti, bahwa kita semua memiliki jalan hidup dan garis waktu yang berbeda-beda. Kami nggak butuh dibandingkan, karena aku juga nggak akan membandingkan kalian. Dan juga, ucapan “semangat!” dari orang-orang sekelling kita itu terdengar sederhana namun sangat priceless. I know it sounds weird, but i grow from my surrounding’s spirit. Kalau lingkunganku supportif, aku juga bakal semangat karena mereka.

Sekian luapan pikiran seorang introvert yang tengah dilanda krisis semester akhir.

Comments

  1. Sebenernya, yang membebani itu bukan buat diri sendiri ya tapi perasaan "tidak enak" sama orang lain?

    Semangat! All is well *puk-puk bener tuh setiap manusia punya zona waktunya masing-masing meskipun kalo saya tidak memungkiri dalam hati kecil ingin bersumpah serapah, anjirlah yang lain udah pada wisuda 😭

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kata joker hidup ini semakin aneh ya? Entah orang-orang yang jadi aneh atau diri kita yang.. yasudahlah, tetap semangat bisa kok bisa, insyaaaAllah selesai di waktu yang tepat hahaha

      Delete
    2. Bener, kadang justru orang lainlah yg bikin hidup ini jadi berasa beban padahal sebelumnya terasa baik-baik aja.

      Terimakasih bang! Semoga kita dikuatkan selalu ya :')

      Delete

Post a Comment

Apa pendapat kamu? Yuk sharing! :)