Friday, October 11, 2013

Keliling Dunia Bukan Lagi Hal yang Mustahil


Lumayan.Itung-itung nambah postingan.  

Judul Buku     : The Naked Traveler 3
Pengarang      : Trinity
Penerbit         : B-First
Tahun Terbit  : 2011
Tebal               : x + 326 halaman
Jenis Buku      : Nonfiksi

 Setelah sukses di “The Naked Traveler” seri pertama dan kedua, kali ini Trinity meluncurkan buku seri ketiga. Buku "The Naked Traveler" ini bercerita tentang  pengalamannya keliling dunia. Ia telah pergi ke semua provinsi Indonesia dan banyak negara di dunia sebagai backpacker atau pelancong yang serba murah.
              
 Dalam salah satu cerita yang berjudul "Chinese Food in China", ia bercerita tentang pengalamannya tinggal beberapa hari di China dan merasakan Chinese Food. Ternyata, restoran China yang ada di China tidak seenak restoran China yang ada di Indonesia ataupun negara lain. Masakan di sana sangat berminyak sampai berasa licin di lidah, dan baunya menyengat. Porsi makanan di China juga tidak kira-kira banyaknya. Walaupun ia sudah meminta rekomendasi dari pemilik hostel, tetap saja restoran yang direkomendasikan tidak begitu enak, dan pasti berminyak. Hanya satu masakan yang menurutnya enak, yaitu bebek peking di Beijing karena memang sudah terkenal di seluruh dunia. Akhirnya, ia menyimpulkan bahwa masakan China di China sama sekali tidak enak,  dan masakan China di Indonesia jauh lebih enak dibanding tempat asalnya.
              
 Di buku itu ia juga menceritakan pengalamannya mendatangi acara pernikahan di Filipina, bergaul dengan orang Aborigin, bermain ski di Korea, homestay di Amerika Serikat ketika ia berumur 16 tahun, dan masih banyak lagi. Semua itu dikemas dalam sebelas bab. Senang, sedih, lucu, semua mewarnai tiap perjalanan Trinity dalam buku ini.
               
Ia liburan bukan hanya melihat pemandangan yang terkenal saja, tapi juga melihat bagaimana tradisinya, bandaranya, orangnya, rumahnya, restorannya, channel TV-nya, dan lainnya. Dia melihat sesuatu dari sisi yang berbeda, dan itu yang membuat bukunya menarik.
               
Yang ditulis di sini pun tidak hanya sisi positifnya saja. Sisi negatif juga ia ceritakan jika memang ada kekurangannya. Nah, ini sebabnya kenapa Trinity dipanggil the naked traveler atau "pelancong telanjang". Disebut begitu karena tulisan-tulisan yang dia buat terkesan frontal dan tidak ditutup-tutupi. Semua ditulis apa adanya. Nyatanya, semua tempat memang belum tentu bagus, bukan?
               
Tulisan Trinity juga cenderung lebih santai. Ia memakai gaya bahasa sehari-hari dan kadang diselingi candaan, sehingga kita nyaman membacanya.
              
 Dikutip dari cerita yang berjudul “Cowok Korea Unyu-unyu?” yang berbunyi: Setiap hari jalan di Seoul dan Incheon, mata saya berburu cowok-cowok muda Korea mulai dari di jalanan sampai tempat gaul. Kesimpulannya: nggak ada, tuh, yang mukanya kayak di serial drama korea! Rata-rata muka mereka kayak kotak amal alias kotak-kotak dengan rahang tegas. Bodinya juga nggak semua lean atau muscular, tapi banyak juga yang segede gaban. (hal. 51)
               
Dari kutipan tersebut terlihat jelas gaya bahasa Trinity yang apa adanya. Bahkan ia juga mematahkan anggapan bahwa cowok korea itu ganteng-ganteng seperti di serial drama.
               
Buku ini tidak hanya menambah wawasan kita tentang dunia, tapi juga membuat kita iri dan ingin buru-buru menabung untuk pergi ke tempat impian.
              
 Sayang sekali, dalam bukunya tidak banyak terdapat foto-foto selama ia berpergian. Padahal, kita sebagai pembaca juga butuh ilustrasi untuk bahan pertimbangan tempat tersebut bagus atau tidak.
               
Dari segi fisik, menurut saya cover buku ini terlalu sederhana. Dan juga kertas yang digunakan warnanya kusam dan agak tipis, padahal di seri sebelumnya kertas yang dipakai adalah kertas yang lebih bagus, putih dan lebih tebal.
                         
Melalui buku ini, kita diajak untuk berani keluar dari zona nyaman untuk melihat dunia. Kita diajarkan untuk menghilangkan rasa takut, karena menurutnya, worrying gets you nowhere. Takut melakukan hal-hal baru menyebabkan kita tidak berkembang dan tidak bisa melihat dunia. Dari buku ini ia membuktikan bahwa mimpi keliling dunia bukan lagi hal yang mustahil, asal kita mempunyai usaha dan keberanian untuk mencapai mimpi tersebut.

Untuk yang punya mimpi keliling dunia, kalian harus baca buku ini karena sangat menginspirasi. Yang tidak berminat keliling dunia, juga tidak ada salahnya membaca buku ini untuk menambah wawasan.

Fetty Ghaessani
XIA1

Fyi aja waktu itu judul resensinya bukan itu, tapi "Si Pelancong Telanjang yang Menginspirasi". Alhasil  waktu gue presentasi ini gue dikerengin sama gurunya gara-gara judulnya yang vulgar.__. wkwk.

2 comments:

Mari budayakan berkomentar. Komen pake bahasa baku, gaul, alay, bahasa alien, terserah. Yang penting no spam :)